Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

Mempermudah Pengguna Jalan

  Merujuk Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Jalan adalah seluruh bagian Jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi Lalu Lintas umum, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan rel dan jalan kabel. Sehingga jalan merupakan fasilitas umum (fasum), yang karenanya semua kalangan dapat mengunakan/melewatinya tanpa hambatan yang disebabkan kesalahan orang dalam memanfaatkan fungsi jalan.      Minggu 17 Desember kemarin, pukul 06.00 wib berangkat joging pagi menuju Taman Menteng bersama keluarga dari tempat menginap di Kasira Residence Jl. Unta Raya no. 19, RT 03/06 Bintaro sektor 7, kel. Pondok Ranji kec. Ciputat Timur kab. Tangerang Selatan provinsi  Banten  (dekat Perum Menteng). Masih cukup pagi dan hari libur sehingga lalu Lalang kendaraan sepanjang jalan menuju Taman Menteng tidak terlalu ramai.  Menyusuri jala

Perang Itu Belum Berakhir

  Salah satu untuk mengalihkan perhatian terhadap peradaban Islam adalah perang Salib. Dalam sejarahnya, perang Salib pernah terjadi di antara sesama mereka dan juga menyasar kaum Yahudi.  Kejadian Perang Salib Kataris pernah dijadikan legitimasi atas pembantaian di antara sesama Kristen, bahkan dalam perkembangannya berakhir menjadi kepentingan politik. Perang konvensional adalah menumpahkan darah sesama makhluk ciptaan Tuhan. Tidak hanya kepada makhluk yang bernama manusia, makhluk yang lain pun bisa kena imbasnya. Perang adalah pilihan jalan terakhir, apabila semua jalan menempuh damai sudah buntu. Ada adab-adab dan prasyarat perang dalam Islam, yaitu: 1.   Dilarang membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua. Kecuali mereka dengan bukti yang jelas melindungi pasukan lawan dan melakukan perlawanan dan dilarang dibunuh jika sudah menyerah, termasuk pasukan yang telah menyerah. 2. D ilarang membunuh hewan, merusak tanaman dan merusak habitatnya. 3.   D ilarang merusak fasilitas umum dan

Nenek Moyang Kita Pelaut

Nenek Moyangku Seorang Pelaut nenek moyangku orang pelaut gemar mengarung luas samudra menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa angin bertiup layar terkembang ombak berdebur di tepi pantai pemuda b’rani bangkit sekarang ke laut kita beramai-ramai “Nenek Moyangku Orang Pelaut” adalah judul lagu anak.anak yang kini telah  berusia 83 tahun, persisnya digubah Ibu Soed pada 1940 saat Nusantara dalam masa peralihan pendudukan penjajah yakni masa-masa sekutu -termasuk Belanda yang bercokol di Nusantara- diujung tanduk bertekuk lutut kepada Jepang.  Liriknya menyimpan pesan moral, rasanya lagu yang sarat akan makna kemanusiaan. Juga datang dari  Indonesia Timur, orang Bugis-Makassar memiliki semboyan: “ Kualleangi Tallanga Natowalia ” yang terjemahan bebasnya: “Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai”. Namun arti sebenarnya dari kata “ Kualleangi Tallanga Natowalia” adalah “Lebih Kupilih Tenggelam (di lautan) daripada Harus Kembali Lagi (ke pantai)” h

Kebersahajaan Ki Ageng Pemanahan

  Sultan Pajang, Sultan Hadiwijaya (saat muda dikenal dengan nama Joko Tingkir) bersahabat karib dengan Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Pemanahan. Atas jasa besar ke dua sahabat karibnya, Sultan Hadiwijaya memberi hadiah tanah pesisir (sekarang Pati dan sekitarnya) dan Alas Mentaok.  Ki Ageng Pemanahan orangnya bersifat manah sehingga mempersilakan sahabatnya yang lebih tua, Ki Ageng Penjawi untuk memilih hadiah sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir tersebut. Tentu dapat dimaklumi atau manusiawi, Ki Ageng Penjawi akhirnya memilih tanah pesisir yang lebih ramai bahkan telah memiliki pelabuhan laut yang saat ini dikenal daerah Juwana pesisir pantai kab. Pati provinsi Jawa Tengah. Jadi tidak ada pilihan lain bagi Ki Ageng Pemanahan, karena pilihan tinggal satu wilayah yaitu Alas Mentaok alas gung liwang liwung (hutan lebat dan sepi). Di luar dugaan Ki Ageng Pemanahan, ternyata sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir masih menahan wilayah Alas Mentaok, dengan alasan Alas Mentaok (hutan Mentaok)

Masjid Al Haadii Lapangan Tembak Sarsanto AKMIL Magelang

Sepuluh hari yang lalu tepatnya Sabtu 29 Juli 2023, sekembali menengok Bapak -usia 72 tahun dan kesehatan cukup menurun- di dukuh Gombang Alas desa Gombang kec. Cawas kab. Klaten, saya mampir shalat Asar di masjid Al Haadii lapangan tembak Sarsanto AKMIL Plempungan kab. Magelang. Tiba di masjid tersebut, di lokasi parkir baru ada satu mobil dinas militer dan saya parkir tepat di sebelahnya. Usai wudhlu dan masuk masjid baru ada dua prajurit TNI dan satu warga sipil. Masjid Al Haadii tersebut ternyata belum lama berdiri, tiga tahun yang lalu diresmikan penggunaannya, tepatnya 27 Agustus 2020 yang berdiri atas inisiatif dan diprakarsai oleh para alumni AKABRI 1986 yang pelantikan menjadi perwira TNI pada tanggal 20 September 1986 yang didedikasikan untuk almamater Akademi Militer di Lembah Tidar Magelang. Dari prasasti berbentuk bongkahan batu hitam besar di ujung kanan depan masjid dapat kita ketahui maksud dan tujuan pembangunan masjid Al Haadii oleh para alumni AKABRI 1986. Tercantu

MIMI LAN MINTUNO

            Dalam falsafah Jawa, kesetiaan dengan pasangan hidup (suami isteri) biasa digambarkan dengan sebutan Mimi dan Mintuno. Ternyata, Mimi dan Mintuno masuk golongan hewan jenis Kepiting Tapal Kuda yang hidup kesana kemari selalu bersama-sama.           Konon kabarnya, selalu sepasang hidup bersama yang dilakoni Kepiting Tapal Kuda adalah harga mati. Jika tidak hidup bersama (terpisah) salah satu akan segera menemui ajal, mati. Bahkan diinfokan (bisa mengarah mitos sehingga perlu diuji), apabila hanya salah satu yang dimasak menjadi makanan, maka akan beracun. Namun apabila dimasak sepasang Kepiting Tapal Kuda, maka racunnya akan netral sehingga aman dikonsumsi. Ketika kita mendengar sahabat, tetangga ataupun undangan pernikahan, ada juga yang mengucapkan kalimat yang maknanya serupa dengan ungkapan di atas, misal: “Mogo-mogo tetep rukun nganti kakek ninen” (semoga tetap rukun sampai menjadi kakek nenek). Ada pula yang menyampaikan ucapan dengan singkatan yang populer dengan ist

KA KERTANEGARA

     Pada  Mei tanggal tiga belas bulan yang lalu saya melakukan perjalanan dari kota Solo tujuan Purwokerto dengan menumpang KA Kertanegara. Dua jam sebelum keberangkatan dari stasiun Solo Balapan saya sudah tiba di stasiun. Kalau hanya duduk sambil memandangi HP tentu boring dan saya pun juga kurang enjoy bila duduk-duduk menunggu hanya ditemani HP. Turun dari ojol yang membawa saya dari ke penginapan ke stasiun, dalam perjalanan menuju pintu keberangkatan pandangan mata saya  (S) tertuju seorang muda yang duduk sendiri di taman di kursi di bawah pepohonan besar nan rindang yang hanya di temani HP-nya. Akhirnya si Pemuda (SP) saya hampiri. Ringkas obrolan:    S “Assalamu’alaikum, sendirian Mas”, sapa saya mengawali pembicaraan SP Iya nih Pak S Jemput ya Mas SP Tidak Pak, nunggu teman, sudah lama tidak ketemu. Infonya mau bawa KA ke Purwokerto siang ini S KA yang jam satu (13

“Jangan Sekadar Jadi Kasir”

Dua tahun yang silam tepatnya Jumat, 30 April 2021 media online CNB Indonesia mengutip pesan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati   yang ditujukan khususnya kepada para pejabat di lingkungan Ditjen Perbendaharaan dalam momen pelantikan pejabat eselon II di lingkungan Kementerian Keuangan hari Jumat, 30 April 2021 di kantor Kementerian Keuangan Jakarta. Menteri Keuangan mengatakan: "Saya minta kepada seluruh Kantor Wilayah, kepala kantornya tidak hanya sebagai kepala kasir. Jangan hanya memiliki mental kasir penyaluran uang, tapi harus memiliki kerangka berpikir, policy maker untuk mewakili kementerian keuangan di daerah sebagai ekonomis dan juga sebagai policy maker ". Arahan yang disampaikan oleh Menteri Keuangan tersebut sejalan dengan yang termaktup pada penjelasan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang menyebutkan bahwa Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dan pejabat lainnya yang ditunjuk sebagai Kuasa  Bendahara Umum Negara bu