Ada makna besar yang dapat diambil dari peristiwa perang Badar pada zaman
Rasulullah Muhammad saw. Meminjam istilah dalam bahasa Jawa, peristiwa itu merupakan
manifestasi dari “Becik ketitik, olo ketoro” (kebenaran akan tampak, pun
kesalahan juga akan tampak). Perang Badar adalah perang besar yang pertama kali
dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabat Muhajirin (sahabat Nabi yang turut
serta dalam hijrah dari Mekah ke Madinah)
serta kaum Anshar (para sahabat Nabi di Madinah) dalam menegakkan ajaran
tauhid dan membela mempertahankan diri.
Kita sudah mengetahui, betapa sengit dan kebencian kaum Qurais telah
mencapai ubun-ubun kepada Nabi Muhammad dan para pengikut beliau. Pertanyaan, mengapa
sangat membenci?. Simple, merasa tersaingi Nabi yang pengikut ajaran tauhid-nya
semakin bertambah banyak dari hari-ke hari. Namun kebencian itu tidak sampai
berakhir menjadi perang secara terbuka, adu pasukan di medan tempur.
Kebencian kaum Qurais yang dimotori Abu Jahal dan Abu Lahab sekaligus
sebagai master mind-nya. Menyiksa
para pengikut Nabi agar kembali ke ajaran lama, upaya pembunuhan kepada Nabi,
memblokade sumber daya dan ekonomi, menghalangi orang Mekah berhijrah mengikuti
Nabi ke Madinah. Itulah rentetan peristiwa yang mendahului sehingga puncak
peristiwa harus berakhir di medan perang Badar.
Kala itu kaum Qurais menerima informasi intelijen kalau rombongan kafilah
dagang mereka yang dipimpin Abu Sufyan akan dihadang oleh Nabi dan para sahabat.
Lantas mereka (kaum Qurais) mengumpulkan pasukan dan terkumpullah lebih kurang
seribu pasukan. Lalu pasukan tersebut bergerak cepat menyusul rombongan kafilah,
untuk berjaga kalau diserang Nabi dan pasukan beliau. Abu Jahal salah satu komandan
dalam pasukan tersebut.
Ternyata mereka salah menterjemahkan informasi intelejen. Memang benar Nabi
dan pasukan beliau bergerak ke arah lembah searah menuju medan Badar, namun bertujuan
mencari sumber air bukan akan menghadang rombongan kafilah kaum Qurais. Kesalahpahaman
pun terjadi di lembah Badar dan momen itulah yang sangat diharapkan Abu Jahal sebagai pentolan penghasut kaum Qurais agar membenci Nabi dan
para pengikut beliau, agar perang berkobar.
Singkat peristiwa, atas pertolongan
Allah, dalam perang Badar kaum Qurais dapat dikalahkan meski dari sisi jumlah
pasukan tidak berimbang (lebih banyak pasukan kaum Qurais). Abu Jahal pun tewas dibunuh
dalam perang tersebut, sementara Abu Lahab mati mengenaskan karena penyakit beberapa hari setelah perang Badar.
“(Yaitu) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada lebih rendah dari kamu.1 Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), niscaya kamu berbeda pendapat dalam menentukan (hari pertempuran itu), tetapi Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan,2 yaitu agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (Al-Anfal/8 : 42)

Komentar
Posting Komentar